You are currently viewing Kamu, Anda, atau Abang? Cara Orang Indonesia Menyapa dan Peta Hubungan di Ratusan Bahasa
Foto: Yasser Bakhsh

Kamu, Anda, atau Abang? Cara Orang Indonesia Menyapa dan Peta Hubungan di Ratusan Bahasa

 

Pengemudi ojek daring itu memanggil saya “Kak”, padahal usianya jelas lebih tua. Beberapa menit kemudian, di warung pinggir jalan, penjualnya memanggil saya “Mas”, lalu “Bos”, lalu “Bang” setelah tahu saya ternyata tidak berasal dari Jawa. Di kantor, saya dipanggil “Pak” oleh yang lebih muda dan dengan nama oleh yang seumuran. Sepanjang hari yang biasa itu, tidak seorang pun pernah menyebut “kamu”. Dan tidak seorang pun merasa itu aneh.

Kebiasaan ini begitu lumrah sampai jarang dipikirkan. Padahal di dalamnya tersimpan salah satu fitur paling menarik dari kehidupan berbahasa di Indonesia: cara kita menyapa orang hampir tidak pernah netral. Setiap sapaan adalah keputusan kecil tentang siapa lebih tua, siapa lebih dekat, siapa perlu dihormati, dan siapa boleh bercanda. Dan karena Indonesia terdiri dari ratusan bahasa, keputusan itu diambil dengan perangkat yang berbeda-beda di tiap daerah. Esai ini mengajak melihat sapaan sebagai pintu masuk untuk memahami bahasa, budaya, dan apa yang terancam hilang bila bahasa-bahasa itu tidak diwariskan.

Satu kata “kamu”, banyak pertimbangan

Dalam bahasa Indonesia baku, kata ganti orang kedua yang tersedia kurang lebih ada tiga: kamu, engkau, dan Anda. Dalam praktik, ketiganya jarang dipakai dengan leluasa. Kamu terdengar akrab dan kadang terlalu langsung. Engkau terdengar puitis atau religius. Anda, yang relatif baru dan dipopulerkan sebagai kata ganti netral pada abad ke-20, sering terasa jauh dan formal, seperti bahasa iklan atau surat resmi. Maka orang Indonesia melakukan hal yang sangat manusiawi: menghindar. Kita memakai nama, gelar, atau istilah kekerabatan sebagai ganti “kamu”.

Sosiolinguis Roger Brown dan Albert Gilman, dalam makalah klasik berjudul The Pronouns of Power and Solidarity (1960), memperlihatkan bahwa di banyak bahasa pilihan kata ganti mencerminkan dua poros hubungan: kekuasaan (siapa lebih tinggi) dan solidaritas (seberapa dekat). Indonesia adalah contoh yang menarik karena kedua poros itu tidak diselesaikan oleh kata ganti, melainkan oleh seluruh gudang sapaan yang jauh lebih kaya.

Peta sapaan dari barat ke timur

Kalau kita menelusuri nusantara, kekayaan itu terasa makin jelas. Di Minangkabau, seorang laki-laki yang lebih tua dipanggil uda dan perempuan yang lebih tua uni, sedangkan mamak, saudara laki-laki dari pihak ibu, menempati kedudukan khusus dalam sistem matrilineal. Di tanah Batak, istilah seperti tulang (saudara laki-laki ibu) dan lae atau ito tidak hanya berfungsi sebagai sapaan, tetapi juga mengatur hubungan antar-marga dan siapa yang boleh dimintai tolong atau wajib dihormati. Di Aceh, orang mengenal abang dan kak, tetapi juga gelar seperti teungku dan cut yang menyiratkan kedudukan agama atau keturunan.

Di Jawa Barat, akang dan teteh memberi kesan hangat dan sopan sekaligus. Di Betawi ada abang dan none, lalu encang dan encing untuk paman dan bibi. Orang Banjar di Kalimantan Selatan memakai pian sebagai kata ganti hormat untuk lawan bicara dan ulun untuk diri sendiri. Di Bali, bli dan mbok dipakai di antara orang sebaya atau yang agak lebih tua, di samping gelar yang terkait dengan kedudukan kasta. Di Makassar, daeng menjadi sapaan yang akrab bagi laki-laki dan sekaligus penanda kehormatan.

Lebih ke timur, kita memasuki dunia yang berbeda. Di Maluku, orang Ambon akrab dengan beta untuk “saya” dan katong untuk “kita”, dengan nyong dan nona sebagai sapaan untuk anak muda. Di Papua, orang menyapa lelaki dan perempuan paruh baya dengan pace dan mace, dan kaka berlaku untuk siapa saja yang lebih tua. Di berbagai pelosok Indonesia Timur, om, tante, opa, dan oma yang berakar dari masa kolonial hidup berdampingan dengan istilah lokal tanpa terasa asing.

Daftar ini sengaja dibuat panjang karena memang itulah intinya. Tidak ada satu bahasa daerah yang bisa mewakili semuanya, dan tidak ada satu “sistem sapaan Indonesia”. Yang ada adalah ratusan cara menjawab pertanyaan yang sama: bagaimana kita menyebut orang yang ada di hadapan kita?

Dua cara mengatakan “kita”

Ada satu keistimewaan lain yang layak disebut karena sering luput dari perhatian penuturnya sendiri. Bahasa Indonesia membedakan kita dan kami. Kita mencakup orang yang diajak bicara, sedangkan kami tidak. “Kita berangkat sekarang” dan “Kami berangkat sekarang” menyampaikan hal yang berbeda: yang pertama mengajakmu, yang kedua memberitahumu bahwa kami pergi tanpa dirimu.

Pembedaan inklusif dan eksklusif seperti ini tidak ada dalam bahasa Inggris, yang hanya punya satu “we”, dan ia umum di banyak bahasa Austronesia, termasuk banyak bahasa daerah di Indonesia. Fakta bahwa tata bahasa kita meminta penuturnya memutuskan, setiap kali berkata “kita atau kami”, apakah lawan bicara termasuk dalam kelompok, adalah salah satu contoh paling jelas bagaimana hubungan sosial tertanam dalam struktur bahasa itu sendiri, bukan hanya dalam kosakata.

Kota, ojek daring, dan sapaan yang diratakan

Lalu terjadilah urbanisasi. Orang dari berbagai daerah bertemu di kota besar dan harus berbicara dalam bahasa Indonesia, yang tidak membawa semua perangkat sapaan tadi. Hasilnya menarik. Sebagian sapaan daerah naik kelas menjadi sapaan nasional: mas, mbak, abang, kak, bang, bu, pak. Dalam beberapa tahun terakhir, “Kak” menjadi semacam sapaan paling aman untuk siapa saja, terutama dalam layanan konsumen dan transaksi daring, karena tidak menegaskan umur, jenis kelamin, atau asal daerah.

Saya melihat ini sebagai dua hal sekaligus. Di satu sisi, ini bukti bahwa bahasa daerah memperkaya bahasa Indonesia dan tanpa sadar menjadi fondasi tata krama nasional. Di sisi lain, proses itu juga meratakan. Anak yang tumbuh di kota dan hanya mengenal “om, tante, kakak” mungkin tidak pernah belajar bahwa dalam keluarga besar ayahnya ada sembilan sebutan berbeda untuk sembilan jenis paman dan bibi, masing-masing dengan hak, kewajiban, dan cara bercanda yang berlainan. Sistem yang rumit itu menyusut menjadi dua atau tiga kata. Efeknya mungkin tidak terasa pada generasi pertama, tetapi pada generasi kedua dan ketiga, sebagian pengetahuan tentang struktur kekerabatan ikut tersapu.

Hal ini penting karena sapaan sering menjadi lapisan terakhir yang bertahan ketika sebuah bahasa daerah menyusut. Orang yang sudah tidak lagi bercakap dalam bahasa leluhurnya kerap masih memakai uda, daeng, atau tulang di tengah kalimat berbahasa Indonesia. Itu kabar baik sekaligus peringatan. Baik karena jejaknya masih ada. Peringatan karena jejak itu tipis: sapaan yang hidup tanpa sistem di belakangnya mudah menjadi sekadar kata sopan, bukan lagi peta hubungan.

Peribahasa dan kenyataan sehari-hari

Peribahasa Melayu yang akrab di telinga mengatakan: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Biasanya ia dibaca sebagai nasihat menyesuaikan diri dengan adat setempat. Dalam konteks sapaan, ia sangat harfiah. Seorang perantau Minang di Papua, seorang guru dari Jawa di pedalaman Kalimantan, atau seorang pegawai dari Sulawesi yang bertugas di Aceh, semuanya sedang belajar cara menyapa yang baru, dan kemampuan itu menjadi tolok ukur apakah mereka diterima. Orang yang tahu kapan harus memanggil “daeng” atau “bli” memberi pesan bahwa ia menghargai tempat itu, tanpa mengucapkan sepatah pun kalimat tentang penghargaan.

Di sini terlihat bahwa bahasa daerah bukan hanya urusan penutur asli. Ia adalah infrastruktur kesantunan yang dipakai bersama oleh semua orang yang hidup di wilayah itu, termasuk pendatang. Kehilangannya akan dirasakan jauh melampaui komunitas etnis tertentu.

Menyimpan peta: langkah yang bisa dicoba

Bagaimana menjaga kekayaan semacam ini? Gagasan yang menurut saya patut dicoba cukup sederhana: membuat “peta sapaan” di tingkat keluarga, sekolah, dan komunitas.

Di tingkat keluarga, caranya bisa berupa percakapan panjang dengan kakek, nenek, atau paman tertua. Tanyakan siapa dipanggil apa dalam keluarga besar, mengapa, dan apa yang pantas atau tidak pantas diucapkan kepada masing-masing. Rekam suaranya, tulis dalam bentuk bagan kekerabatan sederhana, dan simpan bersama foto keluarga. Hasilnya adalah arsip berharga yang tidak ditemukan di buku mana pun.

Di sekolah, guru bahasa Indonesia maupun bahasa daerah bisa menjadikan sapaan sebagai tugas penelitian kecil. Murid mewawancarai tiga orang berbeda usia tentang bagaimana mereka menyapa tetangga, guru, penjual, atau saudara, lalu membandingkan temuan di kelas. Kegiatan ini murah, mudah dilakukan di sekolah mana pun, dan hasilnya sering mengejutkan guru sendiri karena memperlihatkan variasi yang tidak tercatat di buku teks. Kalau dikumpulkan dari banyak sekolah di banyak daerah, data itu bisa menjadi bahan riset yang sungguhan.

Di tingkat komunitas, pemerintah daerah dan lembaga bahasa bisa mendukung pemetaan sapaan sebagai bagian dari program dokumentasi, dengan memasukkan rekaman dan contoh kalimat ke dalam kamus daring. Para pembuat konten, penulis skenario sinetron, dan sutradara film juga punya peran yang tidak kecil. Tokoh-tokoh yang disapa dengan tepat, dalam dialek yang tepat, menunjukkan kepada penonton muda bahwa cara menyapa itu bagian dari cerita, bukan hiasan.

Catatan: sapaan juga bisa menekan

Saya tidak ingin menutup tanpa satu pengakuan. Tidak semua yang terkandung dalam sistem sapaan layak dipertahankan begitu saja. Sapaan juga mencerminkan hierarki, dan hierarki tidak selalu adil. Gelar kebangsawanan, perbedaan kasta, dan aturan siapa boleh bicara pada siapa bisa menjadi alat yang menekan, terutama bagi perempuan, kelompok muda, atau orang yang dianggap berstatus rendah. Anak muda hari ini yang memilih memanggil siapa pun “Kak” mungkin sedang melakukan sesuatu yang sehat: mencari cara untuk hormat tanpa merendahkan.

Karena itu, pelestarian yang baik bukan upaya mengawetkan semua aturan lama, melainkan mencatatnya dengan lengkap sehingga generasi berikut bisa memahami, memilih, dan memperbaikinya. Mengetahui bagaimana kakek-nenek kita menyapa tidak berarti kita harus melakukan hal yang sama. Itu hanya berarti kita punya pilihan, bukan sekadar sisa.

Penutup

Kembali ke pagi yang ramai tadi. Pengemudi yang memanggil saya “Kak”, penjual yang menyebut saya “Bang”, dan rekan yang cukup menyebut nama: semuanya sedang melakukan kerja bahasa yang rumit tanpa merasa bekerja. Dan itu mungkin bukti terbaik bahwa bahasa-bahasa di Indonesia belum menjadi barang museum. Ia masih bekerja setiap hari, di jalan, di warung, di ruang rapat, menentukan bagaimana kita memperlakukan satu sama lain.

Pertanyaannya tinggal apakah kita mau tahu dari mana sapaan itu berasal, dan apakah anak-anak kita akan mendengarnya dari kita, atau hanya dari aplikasi.

Bahan bacaan

  • Brown, R., & Gilman, A. (1960). The pronouns of power and solidarity. Dalam T. A. Sebeok (Ed.), Style in Language. MIT Press.
  • Sneddon, J. N. (2003). The Indonesian Language: Its History and Role in Modern Society. UNSW Press.
  • Badan Bahasa, Kemendikbudristek. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring dan data pemetaan bahasa daerah.